:::: keluarga sakinah dan uniek ..::::

March 16, 2008

MENGASAH KAPAK

Filed under: al hikmah

Pada suatu hari ada seorang pemotong kayu yang sangat kuat. Dia melamar sebuah pekerjaan keseorang pedagang kayu dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat bagus, karenanya sang pemotog kayu memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberinya sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang pemotong kayu berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata,” Selamat, kerjakanlah seperti itu !”

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan harinya sang pemotong kayu bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit.

” Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku “, pikir pemotong kayu itu. Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. ” Kapan saat terakhir anda mengasah kapak?” sang majikan bertanya. ” Mengasah? saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak, saya sangat sibuk mengapak pohon.”

pelajaran yang dapat diambil:

Kehidupan kita sama seperti itu.Seringkali kita sangat sibuk, sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak, ” Pada istilah sekarang, setiap orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. MENGAPA? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras, tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan beragama, kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca dan lain sebagainya.

Kita semua membutuhkan waktu untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, butuh waktu untuk rileks, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai kedalamnya.

March 3, 2008

CINTA DAN NYANYIAN KEMATIAN

Filed under: puisi

       Sesungguhnya kau sendiri dapat menyelami rahasia kematian, tapi betapa kau akan berhasil menemukan dia, selama kau tiada mencarinya di pusat jantung kehidupan ? Burung malam yang bermata kelam, dia yang buta terhadap siangnya hari, tiada mungkin membuka tabir rahasia cahaya.Pabila kau dengan sesungguh hati ingin menangkap hakikat kematian, bukalah hatimu selebar-lebarnya bagi ujud kehidupan. Sebab kehidupan dan kematian adalah satu, sebagaimana sungai dan lautan adalah satu.

       Di dasar keinginan dan harapan manusia yang terdalam, terpendam pengetahuan tentang kehidupan di alam baka, dan bagai benih tetumbuhan yang tidur di musim dingin di bawah selimut timbunan salju, hati manusia terlena dalam buaian mimpi musim semi. Percayailah mimpi itu sebab di dalam kabut terkandung pintu gerbang keabadian. 

       Getarmu menghadapi kematian ibarat gemetarnya anak gembala, ketika berdiri di hadapan raja, yang berkenan meletakkan tangan diatas kepalanya, pertanda restu dan sejahtera. Tidakkah ia diperkenankan menerima restu sang raja ? namun demikian, bukankah penghargaan ini, semakin membuat gemetar jiwa ?



       Apakah sesungguhnya kematian, selain telanjang, di tengah angin, serta luluh dalam sinar surya ? dan apakah arti nafas berhenti, selain membebaskannya dari antara pasang dan surut ombak yang gelisah, sehingga bangkit mengembang lepas, tanpa rintangan manuju ILAHI. Mereguk air dari sungai keheningan, hanya dengan jalan demikian, jiwamu akan menyanyi dalam kebahagiaan.

       Dan pada saat engkau meraih puncak pegunungan, disitulah bermula saat pendakian, dan ketika bumi menuntut kembali jasad tubuhmu, tiba pula saatnya, bahwa tarian yang sesungguhnya, mulai kau tarikan.

        Bunga akan tampak indah ketika musim bunga bermula, mencium pucuk-pucuk kecilnya, namun kasih akan senantiasa tampak indah dari bunga, karena ia terus tumbuh tanpa bantuan musim.

       Biarka aku terbaring dalam lelapku, karena jiwa ini telah dirasuki cinta, dan biarkan daku istirahat, karena batin ini memiliki segala kekayaan malam dan siang. Nyalakan lilin-lilin dan bakarlah dupa nan mewangi di sekeliling ranjang ini, dan taburi tubuh ini dengan wangian melati serta mawar. Minyakilah rambut ini dengan puspa dupa dan olesi kaki-kaki ini dengan wangian, dan bacalah isyarat kematian yang telah tertulis jelas di dahi ini.

        Biar ku istirahat di ranjang ini, karena kedua bola mata ini telah teramat lelahnya, biar sajak-sajak bersalut perak bergetaran dan menyejukkan jiwaku, terbangkan dawai-dawai harpa dan singkapkan tabir lara hatiku. Nyanyikanlah masa-masa lalu seperti engkau memandang fajar harapan dalam mataku karena makna ghaibnya begitu lembut bagai ranjang kapas tempat hatiku berbaring.

       Hapuslah air matamu saudaraku dan tegakkanlah kepalamu seperti bunga-bunga menyemai jari-jemarinya menyambut mahkota fajar pagi. Lihatlah kematian berdiri bagai kolom-kolom cahaya antara ranjangku. Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya.


       Dekatilah aku dan ucapkanlah selamat tinggal buatku. Ciumlah mataku dengan seulas senyummu. Biarkan anak-anak merentang tangan-tangan mungilnya buatku dengan kelembutan jemari merah jambu mereka,. Biarkanlah masa meletakkan tangan lembutnya didahiku dan memberkatiku. Biarkanlah malaikat mendekati dan melihat bayangan Tuhan dalam mataku dan mendengar Gema Iradat-Nya berlarian dengan nafasku.

       Aku akan melakukan segala apa yang telah engkau ucapkan tadi. Dan aku akan menjadikan jiwaku sebagai sebuah kelambu yang menyelubungi jiwamu. Hatiku akan menjadi tempat tinggal keanggunanmu, serta dada ku akan menjadi kubur bagi penderitaanmu. Aku akan selalu mencintaimu…sebagaimana padang rumput yang luas mencintai musim bunga.

       Aku akan hidup di dalam dirimu laksana bunga-bunga yang hidup oleh panas matahari. Aku akan menyanyikan namamu seperti lembah menyanyikan gema lonceng di desa. Aku akan mendengar bahasa jiwamu seperti pantai mendengarkan kisah-kisah gelombang.

       Aku akan mengingatimu seperti perantau asing yang mengenang tanah air tercintanya, sebagaimana orang lapar mengingati pesta jamuan makan, seperti raja yang turun tahta mengingati masa-masa kegemilangannya dan seperti seorang tahanan mengingati masa-masa kesenangan dan kebebasan.

       Aku akan mengingatimu sebagaimana seorang petani yang mengingati bekas-bekas gandum di lantai tempat simpanannya, juga seperti gembala mengingati padang rumput yang luas dan sungai yang segar airnya.

(Kahlil Gibran)

Toek seseorang yang sedang mencari kesejatian






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer