MENTALISM
Alkisah di suatu negara antah berantah, hiduplah seorang pemuda yang baru saja kembali dari penggalian ilmunya di kota. Kembali ke tanah kelahiran yang dulu subur gemah ripah lohjinawi, ia menemukan berbagai cobaan dan perubahan yang mencolok dari yang pernah ia ingat dulu. Kedua orang tuanya telah meninggalkannya, dipanggil oleh Yang Maha Pencipta. Tanah yang subur, air sungai nan bening yang mengalir ria kini kerontang tak bernyawa.

Sungguh sedih hati sang pemuda menerima cobaan ini. Ayah ibu yang begitu mengasihi meninggalkannya, tatkala ia masih butuh akan bimbingannya. Namun, meratapi kesedihan bukanlah jalan keluar dari permasalahan nyata yang ada didepannya. Sebagai putera daerah yang beruntung dapat kesempatan belajar sampai akhirnya ia lulus mendapatkan gelar kesarjanaan, walau ia bukan berasal dari keluarga mampu, ia terpanggil untuk menyumbangkan ilmu dan relasi yang ia miliki. Saat ini hanya sepetak tanah kecil yang tersisa.
Hampir seluruh tanah warisan yang dimiliki telah habis di jual untuk biaya kuliahnya, tapi hal itu tak menyurutkan niatnya untuk mengembalikan kesuburan yang pernah dimiliki desanya.
Pagi datang tanpa iringan nyanyian burung yang telah pergi entah kemana. Hawa dingin menusuk menyergap saat ia membuka pintu untuk mengambil wudhu. Kekeringan seperti ini menambah dingin udara pagi dan lebih panas saat siang. Berbekal singkong rebus dan air minum yang dimasukkan kedalam ransel kecil, ia memulai langkahnya menyusuri pematang kering di sawah berbelah-belah. Dalam benaknya telah tersusun rencana apa yang akan ia kerjakan hari ini.
Dari perjalanannya ia banyak menjumpai pepohonan tak berdaun. Batangnya telah kehilangan sumber hidup- AIR. Langkahnya semakin jauh mengarah kelembah dimana dulu terdapat sungai bening yang kerap ia renangi bersama kawan kecilnya. Semak belukar yang dulu hijau memagari setapak, saat ini telah menguning layu dan tak terawat. Tiba-tiba…, angin cukup keras menerpa. Debu tanah kering membumbung pekat menampar muka. Refleks ia katupkan kedua mata seraya berlindung dibalik caping yang dikenakan. ‘Uff’ ternyata satu dua butir debu sanggup menerobos ke dalam matanya, dengan punggung tangan ia menggosok kedua mata sampai memerah dan berair. Dipercepat langkahnya untuk segera sampai di sungai. Air adalah jawaban untuk menghilangkan onak di matanya.
Inikah sungaiku dulu? sungai yang telah menggoreskan minat kecintaanku, atau salah jalankah aku? kalau benar, kenapa tak ada air di sungaiku? hanya batu-batu besar berserak menutupi cerukan panjang dalam yang mirip bekas aliran sungai. Tak sadar tangannya kembali mengucek matanya hingga semakin merah. Seksama ia meneliti sekitar untuk memastikan. Betul, walau keberadaannya tak lagi sama dan rimbun seperti yang pernah akrab dalam benaknya. Ia masih mengenalnya sebagai sungai keceriannya dulu. "Separah inikah kerusakan yang menimpa desaku? apakah ini cobaan ‘NYA’ atau ini akibat dari pengrusakan manusia sendiri yang kemaruk akan keduniawian…??" sungguh, saat itu pikirannya dipenuhi dengan berbagai tanya yang tak mampu ia jawab sendiri. Akhirnya, dengan air minum persediaannya, ia bersihkan matanya untuk kembali normal.
Matahari mulai tinggi, seiring kepenasaran si pemuda untuk mengetahui kenapa air tak lagi mengalir, apakah sumbernya telah dialihkan oleh tangan ghaib atau mungkin oleh ulah manusia? memenuhi hasratnya, ia mulai menapak satu-satu diantara batuan sungai. Naik…naik dan semakin tinggi membawa tubuhnya mendekati daerah yang diperkirakan sebagai sumber air. Ketercengangan si pemuda semakin bertambah saat pandangannya menampak. Dulu… dulu sekali, daerah ini terkenal dengan keangkerannya. Kelebatan hutan kiri kanan sungai selalu menyurutkan langkah siapapun untuk mencoba ke tempat ini. Sekarang… hanya satu dua pohon masih mampu menahan daunnya agar tak sampai menggunduli batangnya. Di sana-sini bekas abu pembakaran yang dibiarkan berserakan. Tempat yang dulu selalu teduh, tempat yang tak pernah sepi nyanyian burung, kini tandus tak berpenghuni. "O, inilah rupanya biang keladinya!" gumam si pemuda dalam hati.
Malam telah larut, saat itu si pemuda masih tak mampu memejamkan matanya sedikitpun. Dalam benaknya dipenuhi berbagai rencana untuk dijalankan. Modal, jelaslah ia tak punya, untuk itu ia akan berusaha mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam rencananya. Lapat-lapat dari jauh terdengar suara adzan menandakan hari telah mulai mendekati kekuasaan Sang Raja Siang, saat ia akan memulai langkah awal dari rencananya.
Tiga tahun berlalu terasa lambat. Tanah yang dulu kering, sekarang mulai menandakan kehidupan. Burung yang dulu enggan singgah, sekarang telah sudi hinggap. Tunas-tunas muda kini telah sanggup mewarnai sekitar bekas tebangan. Hasil yang diperoleh saat ini bukanlah satu pekerjaan yang mudah bagi si pemuda. Berbagai rintangan silih berganti mencoba menyurutkan niatnya. Penduduk yang awalnya mencibir bahkan mencoba merintanginya, kini telah sadar akan manfaatnya. Bersama mereka si pemuda merintis rencananya. Namun, kendala lain yang lebih berbahaya bagi keselamatannya juga mencoba menyurutkan. Penebang liar, yang seakan-akan mendapat perlindungan dari aparat yang seharusnya melarang, mencoba mengintimidasi bahkan sampai mengancam. Berbagai tantangan tersebut bukannya membuat hatinya miris, bahkan semakin memacu semangatnya.
Akhirnya dari keteguhannya, berbagai kalangan ikut bersimpati. Dorongan moril dan materiil bahkan perlindungan berdatangan.
Saat ini sangatlah sulit mendapatkan orang seperti pemuda ini. Pamrih adalah sasaran awal dari apa yang akan dilakukan. Jangankan berkorban atau membantu, bersimpatipun sepertinya merupakan hal yang langka. Seringkali suatu niat tulus malahan dicurigai, dan entah dengan alasan apa bahkan mencoba merintangi. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, ketulusan dan keikhlasan telah bergeser. Egoisme, saling curiga, kekerasan, pengrusakan semakin meraja lela mengalahkan hal-hal baik yang dulu pernah diagung-agungkan. Bahkan seringkali aparat yang seharusnya menjunjung tinggi moral, bahkan bertindak sebagai backing dari semua itu. Semoga di tengah eforia penurunan nilai ini masih tersisa satu, dua atau lebih manusia yang berjiwa seperti si pemuda.
(IDAYLUM)




indah nian ahlaq pemuda itu
dan kita harus berusaha
tuk menjadi pemuda yang sepertinya
Comment by achoey — May 5, 2008 @ 10:29 am
Ass.
ini fiksi ato nonfiksi..ato memang sekedar penggambaran kondisi negeri ini…moga saja kita salahsatu dari pemuda yg visioner itu.
Comment by Alex's — May 7, 2008 @ 3:25 am
Terima kasih Kak Achoey dan Kak Alex atas silaturrahimnya. bisa ketiga2nya Kak Alex, smoga kakak berdua termasuk dari pemuda diatas.
Comment by Frida — May 8, 2008 @ 1:17 pm
Membaca paragraf terakhir, memang bagitulah keadaan yang saya pribadi pernah dapatkan sendiri. Di curigai, dan hal-hal lain yg sejenis sudah jadi hiasan yg lazim saat ini.
Namun bagaimanapun hal itu adalah cermin yg bisa kita jadikan pelajaran, dimana pasti diri kita pribadi tidak menginginkan hal-hal buruk tersebut manjadi bagian dari ciri pribadi kita (na’udzubillahi min zalik).
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita, memelihara hati-hati kita agar senantiasa lembut, penuh dengan sifat-sifat terpuji dan kasih sayang, semata-mata dalam rangka meneladani Rasul-Nya, Baginda Rasulullah SAW, sosok yang Allah SWT akui sendiri memiliki keagungan dan keluhuran akhlak.
Wallahu a’lam
Comment by Rozy — May 14, 2008 @ 2:38 am
Subhanallah hampir sama ya kejadiannya ? Smoga Kak Rozy sabar dalam menghadapi semua rintangan yang datang, pastinya Allah SWT akan memberikan kemudahan dan kebaikan bagi orang2 yang berjuang di jalan-NYA.
Amien smoga doanya dikabulkan oleh Allah SWT. Terima kasih atas silaturrahimnya.
Comment by Frida — May 15, 2008 @ 2:16 pm