:::: keluarga sakinah dan uniek ..::::

June 19, 2008

KISAH POHON APEL

Filed under: al hikmah

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.

"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu.

"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

 

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,"jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.

Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.

"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

*****
Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika
kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sumber : Motivasi Net

11 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://madida.blogsome.com/2008/06/19/kisah-pohon-apel/trackback/

  1. Semoga bakti kita kepada kedua orang tua tak pernah luntur, meski usia beranjak dewasa dan kesibukan senantiasa mengiringi, karena bagaimana pun jasa keduanya tak akan bisa kita bayar, walau dengan tetesan darah sekalipun.

    Oleh sebab itu, datang dan rangkullah mereka…

    Allahummaghfirlana dzunuubana waliwaalidayna warhamhuma kama robbayaana shoghiiroo…

    Comment by Rozy — June 19, 2008 @ 4:52 am

  2. Indah nian setiap untaian kata itu. Teduh layaknya dinaungi dahannya, manis layak buahnya; namun mencengkram hati layak akarnya. Ukhti, terima kasih dan sukses selalu untukmu dan kelarga. Amin

    Comment by adikhresna — June 22, 2008 @ 10:02 am

  3. amien…. terima kasih silaturrahimnya kak Rozy dan kak Adi. smoga kita termasuk anak yg shaleh/shalehah yg menjadi teladan dan impian yg dapat membahagiakan orang tua kita.

    Comment by Frida — June 25, 2008 @ 4:16 am

  4. nice story, thx for sharing this :)

    Comment by Supermance — June 30, 2008 @ 10:57 pm

  5. Terima kasih Kak Firman kunjungannya…

    Comment by Frida — July 1, 2008 @ 8:38 am

  6. ASS.

    Jadi inget Ibu di kampoeng nun jauh disana………

    Comment by Alex — July 2, 2008 @ 6:03 am

  7. Wa’alaikumussalam… terima kasih Kak Alex silaturrahimnya, sekarang kan lagi libur …pulanglah tuk lepaskan kerinduan, kalau tak bisa telponlah saat ini juga dan berdoalah untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka. smoga sukses.

    Comment by Frida — July 2, 2008 @ 10:00 am

  8. wah..saya nggak ada liburnya tuh…..kerja truss..
    palingan pulang ketika lebaran Idul fitri

    yah..palingan nelpon…thanks atas sarannya

    Comment by Alex — July 3, 2008 @ 4:32 am

  9. ternyata kak Alex pekerja keras, alhamdulillah kakak masih bisa pulang, yang penting silaturrahim tidak terputus walau hanya lewat telpon, sama2, smoga kakak sukses.

    Comment by Frida — July 9, 2008 @ 1:24 am

  10. ortu = AIR MATAKU,, karna setiap terbayang mereka air mataku selalu saja jatuh di pipi…tak peduli walau hidung, jidat, mulut, bahkan gigiku yang ompong tersenyum mengejeknya….yach begitulah hib. ceritamu bikin kangen aja.!!!!

    Comment by K 351 T — August 3, 2008 @ 6:37 pm

  11. jadi ingat lagunya Dewa yg judulnya Air Mata. Loh memangnya gigi akhi K 351 T ompong? kelihatannya masih sangat muda, jangan2 sering makan permen dan coklat ya?
    oya smoga kita dapat membahagiakan orang tua kita. kangen ma ortu? ya semestinya dong, mereka juga pasti rindu dg kita.

    Comment by Frida — August 4, 2008 @ 4:35 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer