ISRA MI’RAJ
Kalau kita perhatikan, hampir setiap bulan dalam Kalender Islam memiliki nilai sejarah. Kalau kita bicara Muharram misalnya, kita diingatkan pada peristiwa Hijrah, di bulan Ramadhan kita bertemu dengan Nuzulul Qur’an, di bulan Dzulhijjah membawa kita keperistiwa ‘Idul kurban, kita menjumpai ‘Idul Fitri di bulan Syawal. Kita bersua dengan Maulid Nabi Muhammad saw di bulan Rabi’ul Awal dan ketika perjalanan hidup kita tiba di bulan Rajab, kita diajak mengembara, merasakan ke-Maha Besar-an Allah bersama Isra Mi’raj.
Istimewa sekali, bahwa untuk mengisahkan peristiwa Isra Mi’raj Allah memulai ayat-Nya dengan kalimat Tasbih. Firman Allah QS. Al- Isra’ ayat 1 yang artinya:" Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haran ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…". Banyak peristiwa yang diceritakan Al-Qur’an, tetapi jarang sekali diawali dengan kalimat Tasbih. Ketika Al-Qur’an menceritakan bagaimana Fir’aun dan bala tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah, itu peristiwa hebat tapi tidak dimulai dengan kalimat Tasbih.
Kalau untuk memaparkan peristiwa Isra Mi’raj Allah memakai kalimat Tasbih, tentulah bukan suatu kebetulan." Subhanalladzi (Maha Suci Allah)". Maha Suci dari segala kelemahan. Maha Suci dari segala kekurangan. Maha Suci dari segala kesia-siaan. Allah mempertaruhkan kesucian-Nya untuk menjamin kebenaran peristiwa Isra Mi’raj. Pertanda bahwa Isra Mi’raj bukan peristiwa biasa.
Kalimat selanjutnya " Asra (telah memperjalankan)". Dari kalimat itu tampak bahwa dalam peristiwa Isra Mi’raj yang aktif sebenarnya Allah, karenanya tidak heran jika Nabi berangkat dari Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, lalu naik kelangit ketujuh, naik lagi ke Baitul Makmur setelah itu ke Sidratul Muntaha, hingga tiba di bawah Arsy menerima perintah SHALAT, melakukan kunjungan ke Surga dan Neraka, kemudian kembali lagi ke Mekkah, hanya memakan waktu tidak lebih dari sepertiga malam. Kenapa tidak ? Wong Allah yang memperjalankan. Nabi sendiri pasif sekedar diperjalankan dan terima beres. Andai kata Rasul berjalan sendiri, jelas beliau tidak akan sanggup menempuh jarak yang demikian jauh dalam waktu sesingkat itu. Oleh karena itu di dalam memahami peristiwa Isra Mi’raj jangan memakai logika manusia, tetapi harus menggunakan logika ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.
Satu contoh kecil, suatu hari saya pergi ke Malaysia. dari rumah jam 8.00, ambil baju di lemari, lalu saya pakai dan kebetulan di kantong baju saya ada semutnya. Tiba di Malaysia jam 10.00, urusan di Malaysia selesai jam 11.00, kemudian kembali lagi ke rumah dan tiba jam 1.00 WIB. Sang semut keluar dari saku baju saya dan cerita kepada teman-temannya bahwa dia baru saja pulang dari Malaysia. Teman-temanya yang berfikir dengan logika semut tentu saja tidak akan percaya." Tidak mungkin, badanmu kecil, jalanmu begitu lambat, masa Jakarta-Malaysia Pulang Pergi bisa kamu tempuh hanya dengan lima jam perjalanan," ungkapan semacam itu yang akan mereka lontarkan. Mereka tidak tahu bahwa Sang semut tidak berjalan sendiri, melainkan di perjalankan oleh saya. Dahulu Abu Jahal, Abu Lahab dan kawan-kawannya memahami peristiwa Isra Mi’raj ini dengan logika berfikir manusia,terang saja mereka tidak bisa mencerna. Padahal kalau sedikit saja mau merenungi ayatnya, orang tidak akan kesulitan memahami Isra Mi’raj. Peristiwa Isra Mi’raj itu kehendak Allah, bukan kehendak Rasulullah SAW.
Kemudian kalimat " ‘Abdihi (hamba-Nya)". Kenapa Allah tidak menggunakan kalimat lain misalnya," Maha Suci Allah yang telah memperjalankan Muhammad SAW". Ada dua pengertian yang dikandung kata " ‘Abdihi (hamba-Nya) dalam ayat tersebut:
- Kata "hamba" itu menjelaskan bahwa Nabi Isra Mi’raj dengan Ruh dan Jasad, sebab orang hanya akan dipanggil hamba kalau punya jasad dan ruh sekaligus. Jasad tanpa ruh namanya mayit, ruh tanpa jasad mungkin dedemit.
- Kalimat ‘Abdihi (hamba-Nya) juga menjelaskan bahwa Nabi MUhammad SAW itu oleh Allah SWT benar-benar telah diakui sebagai hamba-Nya. Mungkin kita bertanya," Lho, apakah kita bukan hamba Allah ?" Tentu kita ini hamba Allah, tapi kata siapa ? Kalau kata kita, itu namanya pengakuan. Kita mengaku sebagai hamba Allah, boleh-boleh saja, tetapi apakah pengakuan kita itu juga diakui Allah, ini yang jadi masalah. Kita bisa saja mengaku kenal dengan Bapak Presiden, tapi apakah Bapak Presiden juga kenal kita ? dengan kata lain, kata "hamba Allah" itu keluar dari mulut manusia nilainya rendah, tetapi kalau kalimat itu datang dari Allah, itu yang mahal.
Begitu banyak manusia yang mulutnya mengaku sebagai hamba Allah, tetapi perbuatannya membuktikan bahwa dia hamba dunia, hamba nafsu, hamba atasan, budak pangkat dan jabatan. Sedemikian tak terkira-kira jarak antara perkataan dan perbuatannya. Padahal Syahadat mengandung konsekuensi.Kalau kita berucap:" Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah". Saya tidak akan pernah minta pertolongan kecuali hanya kepada Allah semata, kalau tidak, sesungguhnya kita hanya ngaku-ngaku.
Adapun Nabi, kita tahu dari sejarah bahwa sebelum Isra Mi’raj nabi menjalani masa yang disebut "Tahun Kelabu", Nabi ditinggal wafat oleh paman beliau Abu Thalib, tak lama kemudian istri tercinta Siti Khadijah pun mangkat. Kepergian kedua pelindung itu mengakibatkan gangguan kafir Quraisy semakin meningkat. Nabi SAW dicemooh, dicaci maki, dilempari kotoran unta, bahkan diancam hendak dibunuh. Lulus menghadapi keadaan itu, Allah memanggil beliau untuk Isra Mi’raj dengan kalimat "Bi’Abdihi", seolah-olah Allah berkata " Muhammad itu benar-benar hamba-Ku. Apapun yang menimpanya tak merubah sikap kehambaannya kepada-KU". Itulah beda antara pengakuan sebagai hamba Allah yang kita ucapkan dengan panggilan "hamba Allah" yang datang dari Allah SWT. Mengaku sebagai hamba Allah masih menyimpan tanda tanya besar tentang bukti empiris dari pengakuan tersebut, sementara panggilan "hamba" dari Allah merupakan penilaian tersendiri dari Allah atas realitas kehambaan kita.

Dalam peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menerima perintah "SHALAT". Inilah salah satu keistimewaan Shalat. Ketika Allah memerintahkan puasa cukup dengan menurunkan ayat-Nya, saat memerintahkan orang yang mampu untuk melaksanakan Haji cukup dengan firman-Nya, waktu Allah mewajibkan kita buat bayar zakat juga sekedar menurunkan wahyu-Nya, sedangkan untuk perintah Shalat Nabi Muhammad SAW langsung dipanggil Allah SWT.
Isra Mi’raj adalah Iradah Allah. Kita manusia punya kemauan, Allah pun punya kemauan, kalau kemauan Allah sesuai dengan kita, yang kita kehendaki itu akan terjadi, kalau tidak sesuai, maka hanya kemauan Allah yang akan terjadi, agar keinginan kita sesuai dengan kehendak Allah, caranya kita harus dengan Allah, kalau kita mendekat, Allah pun akan dekat, kalau kita dekat maka fasilitas-Nya akan diberikan. Sarana komunikasi yang paling efektif untuk mendekati Allah adalah SHALAT.




Allahumma a’inna ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik..
Comment by Abu Zahro — July 24, 2009 @ 10:53 am