:::: keluarga sakinah dan uniek ..::::

October 23, 2009

KISAH BERUANG

Filed under: al hikmah
Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya..hup .. ia dapat menangkap seekor ikan kecil.Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap pada sang beruang,

"Wahai beruang, tolong lepaskan aku."

"Mengapa ?" tanya beruang.

"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sang ikan.

"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.

"Begini saja,tolong kembalikan aku ke sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu." kata ikan.

"Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya beruang

"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan !" jawab beruang sambil tersenyum mantap.

"Ops !" teriak sang ikan.

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap :"Ohhhh… andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dulu ..!!!?. Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;….Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ….Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ….Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita….Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar.
Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi kesempatan yang besar.

Sumber : Anonymous

September 15, 2009

HAKIKAT ‘IDUL FITRI/LEBARAN

Filed under: al hikmah

Ketika matahari akhir Ramadhan terbenam dikaki langit sebelah barat dan malam satu syawal datang merayapi bumi, berubahlah segenap perasaan kita. Duka berganti suka, sukar terasa mudah, sedih lenyap menjelma gembira dan hati yang digenangi air kebencian sirna berubah cinta kasih kepada sesama.

Kita kumandangkan kegembiraan itu dengan ucapan Takbir dan Tahmid, yang menggema bersaut-sautan dari rumah yang satu ke rumah yang lain, dari masjid yang satu ke masjid yang lain, bahkan dari kampung yang satu ke kampung yang lain, pertanda rasa syukur kita kepada Allah SWT. Selama Ramadhan, sebulan penuh kita melakukan suatu perjuangan yang berat, lebih berat dari perjuangan mengangkat senjata memerangi musuh yang nyata, lebih berat dari perjuangan yang mengorbankan sebagian kecil dari milik kita.

Itulah perjuangan memerangi hawa nafsu, menghadapi musuh yang tidak tampak di mata dzahir tetapi justru berada di diri kita. Setelah sebulan penuh berpuasa, melatih diri, membina taqwa dan mengharap Ridho Allah SWT, kita kibarkan panji dan bendera kemenangan melalui Takbiran. Namun begitu, harus jujur kita akui banyak diantara kita umat Islam yang hanya memiliki kulit luar dari perayaan Idul Fitri atau Lebaran. Banyak diantara kita yang mengukur Idul Fitri dengan baju baru, sepatu baru dll. Padahal kegembiraan yang hakiki didalam merayakan Idul Fitri itu adalah kegembiraan karena kembali kepada FITRAH.

Bersih, suci seperti bayi setelah dibersihkan dan disucikan sepanjang kita melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Hakikat Idul Fitri tidak terletak pada baju baru, tapi terutama pada JIWA YANG BARU.

Memasuki malam satu syawal kewajiban kita adalah membayar zakat fitrah. Kita memahami bahwa salah satu fungsi ibadah puasa ialah melatih kepekaan sosial yang pada gilirannya akan melahirkan kesetiakawanan sosial. Dengan ikut merasakan lapar dan dahaga kita mengerti bagaimana penderitaan orang-orang miskin. Pengalaman inilah yang akan mengetuk hati kita untuk hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri. Kemudian kesadaran itu kita wujudkan dengan upaya membantu dan menolong orang yang membutuhkan pertolongan, diantaranya ialah dengan memberikan zakat fitrah.

Jika fajar 1 Syawal menjelang berangkatlah kita menunaikan shalat Subuh berjamaah, setelah itu berduyun-duyunlah kita ke masjid atau lapangan untuk melaksanakan Shalat ‘Idul Fitri. Apabila shalat ‘Id sudah selesai dilaksanakan kembalilah kita kerumah untuk bersilaturrahim dengan sanak keluarga. Dengan ibadah puasa kita membersihkan diri di hadapan Allah SWT. tinggal dosa kita yang Allah SWT tidak akan memberikan maaf jika kita belum minta maaf pada yang bersangkutan. Kita adalah makhluk sosial, makhluk yang bermasyarakat. Dalam pergaulan hidup sehari-hari, entah besar atau kecil, entah sengaja atau tidak kita pernah terserimpung berbuat salah. Maka pada saat Idul Fitri itulah kita saling memaafkan. Disini letak hakikat kebahagiaan Idul Fitri, yaitu kemenangan mengendalikan nafsu dengan berpuasa dan membina keharmonisan pergaulan dengan bermaaf-maafan.

Kalau itu sudah kita lakukan maka tugas kita selanjutnya adalah menjaga semangat Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan Ramadhan. Pelaksanaan ibadah puasa yang berhasil akan membentuk jiwa, semangat dan gaya hidup sesudah Ramadhan. Satu bulan Ramadhan mewarnai dan menjiwai sebelas bulan lainnya. Pengendalian diri harus benar-benar meresap kedalam jiwa kita. Kemampuan mengendalikan diri yang dibina selama puasa Ramadhan harus mampu kita pertahankan dalam kancah kehidupan sehar-hari. Sikap lain yang harus tetap kita hidupkan sesudah Ramadhan adalah  sabar, ulet, tahan uji, tidak mudah putus asa, lapang jiwa, luas pandangan dan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT. Terakhir sikap mental yang harus kita lestarikan adalah ikhlas, berbuat tanpa pamrih.

 

Oleh karena itulah marilah kita rayakan Idul Fitri dengan berhalal bihalal, bersilaturrahim dan tetap menjaga semangat Ramadhan untuk kita terapkan dalam kehidupan diluar bulan Ramadhan. Semoga arah hidup kita semakin lurus dan semangat perjuangan kita dijaga dan dipelihara Allah SWT.

August 14, 2009

17 RAKAAT, 17 AGUSTUS dan 17 RAMADHAN

Filed under: al hikmah

Hal yang harus kita sadari betul adalah bahwa kalau sekarang kita dapat melaksanakan pembangunan, itu tidak lain hanya karena negara kita aman. Satu kondisi yang tercipta karena sebagai bangsa, kita sudah MERDEKA. Kita tidak lagi dikejar-kejar oleh rasa takut dan khawatir, tidak lagi dihantui oleh perasaan resah dan gelisah. Namun sungguh tidak boleh kita lupakan bahkan harus selalu kita ingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati sekarang, tidak turun dari langit laksana embun di waktu pagi, tetapi muncul dengan perasan keringat, untaian air mata, bahkan genangan darah dan pengorbanan nyawa para pejuang bangsa, yang terkadang mereka sendiri tidak bisa ikut menikmati hasil perjuangannya.

 

Ada tiga 17 yang harus kita pegang di tengah menggebunya upaya pembangunan nasional. Ketiga 17 itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dicerai pisahkan. 17 yang pertama adalah 17 rakaat Shalat, 17 kedua adalah 17 agustus hari Proklamasi Kemerdekaan RI dan 17 ketiga adalah 17 Ramadhan  saat diturunkannya Al-Qur’an. Apa hubungannya antara 17 Agustus dengan 17 Rakaat dan 17 Ramadhan ?

Didalam Pembukaan UUD 1945 tertulis,"Dengan berkat Rahmat Allah SWT…" Sungguh sebuah pengakuan yang jujur. Para pemimpin kita dahulu sadar sesadar-sadarnya bahwa Proklamasi 17 Agustus hanya bisa diperoleh dengan berkat rahmat Allah SWT. Tanpa rahmat Allah SWT sulit sekali dibayangkan bahwa kemerdekaan ini akan diraih. Jendral mana yang berani taruhan, bambu runcing bisa mengalahkan meriam, ahli strategi perang mana yang berani menjamin bahwa tentara dadakan mampu bertempur dan menang melawan tentara Belanda yang profesional. Para pejuang kita dahulu yang walaupun tidak semuanya namun sebagian besar adalah Umat Islam, tidak hanya bergerilya keluar masuk hutan membawa bambu runcing dan senjata seadanya, tapi mereka juga menggunakan 17 Rakaat sebagai media untuk memohon kepada Allah SWT agar 17 Agustus bisa diraih. Sehingga ketika kemerdekaan dicapai, fakta historis itu dicatat dalam sebuah ungkapan jujur,"Dengan berkat Rahmat Allah SWT…" dan kita generasi yang hidup di orde hari ini tidak boleh melupakannya.

Suatu bangsa boleh merencanakan pembangunan yang bagaimanapun megahnya, silahkan merancang anggaran pembangunan sebesar apa saja, tetapi pada akhirnya rencana dan anggaran itu akan sangat bergantung kepada manusianya sebagai pelaksana pembangunan. Dengan kata lain, bagaimanapun sebuah rencana, seberapapun besarnya anggaran tidak sepenuhnya menjamin keberhasilan pembangunan, kalau rencana dan biaya itu jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, orang tidak beriman, orang yang pribadinya tidak dibentuk oleh 17 Rakaat, maka hasilnya sulit sekali untuk kita harapkan akan baik.

Disinilah bahwa 17 Rakaat itu berfungsi untuk membangun manusia yang melaksanakan pembangunan. Pembangunan jembatan penting, tapi membangun manusia yang membangun jembatan tidak kalah penting, karena kalau manusia yang membangun jembatan itu tidak dijiwai oleh 17 Rakaat dan tidak beriman kepada Allah SWT kemungkinan besar tidak bisa selesai, sebab: batu, pasir, semen dan besinya ditilep oleh manusia yang melaksanakannya, begitu pula dengan jalan, sekolah, puskesmas, yang memang sangat kita butuhkan, pada akhirnya, berhasil atau tidak pembangunannya sangat ditentukan oleh manusia pelaksananya.

 

 Kemudian apa pengaruh 17 Rakaat dalam membentuk kepribadian manusia pelaksana pembangunan ?

  1. 17 Rakaat akan melahirkan sosok pribadi yang jujur, bisa dipercaya, teguh dan pandai menjaga amanat.
  2. 17 Rakaat akan menjadikan manusia bersikap tawadhu’, rendah hati, tidak sombong atau tidak angkuh.
  3. 17 Rakaat membentuk sikap disiplin.
  4. 17 Rakaat itu membentuk sikap ikhlas, terjemahannya dalam kehidupan sehari-hari ialah bekerja tanpa pamrih.
  5. 17 Rakaat itu membentuk pribadi pembangunan yang sabar.

Contoh 17 Rakaat akan melahirkan sosok pribadi yang jujur, bisa dipercaya, teguh dan pandai menjaga amanat. Seseorang yang melaksanakan 17 Rakaat, yang walaupun tidak disaksikan orang lain, ia tidak akan mungkin korupsi rakaat. Shalat Dzuhur misalnya, ada atau tidak ada orang tetap harus empat rakaat, sendirian atau berjamaah Shalat Maghrib tetap tiga rakaat. Dengan Shalat ini tampak orang dilatih untuk merawat kejujuran yang teramat sangat diperlukan dalam pembangunan.

Apalagi untuk kondisi seperti sekarang ini, dimana kita berhadapan dengan persoalan pembangunan yang semakin rumit, ledakan penduduk yang nyaris tak terkendali, jumlah tenaga kerja yang masuk pasaran jauh melebihi kesempatan yang tersedia, kita juga harus bertemu dengan krisis ekonomi global. Dalam situasi seperti ini, kalau kejujuran para pelaksana pembangunan itu nol, maka rencana yang bagus, dana yang besar hanya akan berbuah kebocoran-kebocoran yang pada gilirannya akan merugikan bangsa secara keseluruhan. Negara ini ibarat sebuah kapal, kalau kapal dibor lalu bocor dan tenggelam, maka seluruh penumpang akan menanggung resikonya.

Oleh karena itu kita berkewajiban untuk menjaga keselamatan bersama, seluruh jajaran pelaksana pembangunan dari mulai tingkat yang paling rendah hingga ketingkat yang paling tinggi harus memiliki sikap jujur, yang itu dibentuk oleh 17 Rakaat. Dengan demikian Insya Allah cita-cita masyarakat adil makmur akan cepat terwujud, tetapi kalau kejujuran itu makin lenyap dari sikap keseharian para pelaksana pembangunan, maka yang muncul kemudian adalah pola sikap "mumpungisme", kesewenang-wenangan, penyalahgunaan jabatan dan penyimpangan, akibatnya, keprihatinan akan menimpa kita, negeri ini akan bersimbah air mata.

Demikianlah kita bisa melihat adanya keterkaitan yang jelas antara 17 rakat dengan pembentukan insan pembangunan, guna mengisi makna 17 agustus. Lalu apa hubungannya dengan 17 Ramadhan ?

Seperti kita ketahui, 17 Ramadhan adalah saat diturunkannya Al-Qur’an, yang ayat pertamanya adalah" IQRA’" (BACALAH!). Apa yang perlu dibaca ? ialah AYAT ALLAH SWT. Apa ayat Allah? ALAM adalah ayat Allah, WAHYU ALLAH (AL-QUR’AN) juga ayat Allah. Dengan firman pertama itu seolah-olah Allah berkata," Bacalah alam ini, pelajari dan budi dayakan untuk kemaslahatan kalian semua! Bacalah Al-Qur’an sebagai Pedoman hidup kalian".

Keduanya harus kita jalankan dalam rangka menjaga keseimbangan antara hati dan otak. Mengharmoniskan hubungan antara kemajuan intelektual dengan kemantapan akidah. Otak boleh Jerman tapi hati tetap Mekkah, sehingga kalau kita simpulkan, dengan melaksanakan 17 Rakaat kita isi makna 17 Agustus dengan berpedoman pada petunjuk yang turun di tanggal 17 Ramadhan. Semoga ketiga 17 itu tetap terpatri di hati para pemimpin bangsa, sehingga mampu mengantarkan negeri ini menuju apa yang kita cita-citakan bersama,"Masyarakat Adil dan Makmur di bawah naungan Ridho Allah SWT.

 

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer